JEMBER, Pelitaonline.co – Wilayah pedesaan di Kecamatan Sukorambi selain dikenal agraris, juga dikenal banyak memiliki potensi produk desa yang cukup prospektif bagi pengembangan perekonomian di Kabupaten Jember.
Dengan semangat “Tata Kelola Pemerintahan Jember Kolaboratif” atau Collaborative Governance. Melalui Camat Bambang Rudiyanto, Kecamatan ini bangkit dan bergiat mendorong terciptanya kolaborasi ekonomi desa, antara pemerintahan desa, pihak swasta dengan masyarakat.
Selain itu, produk-produk UMKM pedesaan pun mulai dikolaborasikan dengan para pihak pengusaha, seperti kolaborasi dengan perusahaan startup
One Way Shop. Diharapkan dari hasil kolaborasi tersebut dapat menggerakkan roda perekonomian desa di tengah pandemi Covid 19 ini.
Salah satu UMKM yang mulai melakukan kolaborasi adalah UMKM milik Dewi Isnaini (50) atau biasa disapa Bu Dewi. Perempuan berjilbab yang sekaligus koordinator UMKM se-Kecamatan Sukorambi ini mengaku, telah memiliki produk unggulan yaitu, permen sayur, Stick Ikan, dan teh mawar.
Produk permen sayurnya Bu Dewi ini, termasuk produk yang paling diminati oleh pasar konsumen, namun kendala yang dihadapi untuk memenuhi kebutuhan pasar, ialah permodalan.
“Dengan adanya kolaborasi usaha ekonomi desa, diharapkan masalah modal dan pemasaran yang dihadapi para UMKM bisa teratasi,” ujar Bu Dewi di Kantor Kecamatan Sukorambi, Senin (14/06/2021).
Bukan hanya itu kata Bu Dewi, peran pihak Kecamatan sangat luar biasa dalam mendorong kemajuan UMKM. Seperti memberi motivasi, support, dan pendampingan sangat luar biasa. Bahkan, beliau ikut memasarkan produknya UMKM.
“Peran Kecamatan yang getol menggiatkan kolaborasi pelaku UMKM Pedesaan dengan para pengusaha nasional, seperti dengan perusahaan startup One Way Shop juga sangat membantu sekali,” bebernya.
“Sejatinya wujud implementasi dari visi Bupati-Wakil Bupati Jember yang berprinsip pada sinergi, kolaborasi, dan akeselerasi dalam membangun Jember,” ungkapnya.
Sementara itu Camat Sukorambi yang kerap disapa Bambang, tiga matra dari visi Bupati Jember tersebut bila diterjemahkan yakni sinergi antara Pemerintah, pihak Swasta dan Masyarakat. Sedangkan akselerasi, merupakan kebutuhan mendesak, mengingat banyaknya potensi ekonomi yang harus di eksekusi.
“Yang kita butuhkan saat ini adalah akselerasinya. Bukan sekedar ide-ide, konsep-konsep. Kenapa? Karena, disini banyak potensi yang bisa mensejahterakan ekonomi rakyat,” tegasnya.
Selain itu Bambang menjelaskan bahwa, kolaborasi usaha ekonomi yang ada di Kecamatan Sukorambi, berangkat dari ide bagaimana produk lokal yang ada di bisa tersambung dengan produk-produk nasional.
“Tidak hanya berkolaborasi dengan pengusaha nasional, kami juga menggandeng perguruan tinggi agar terlibat didalamnya. Kalau kolaborasi dengan perguruan tinggi, saat ini kami kerja sama dengan Fisipol Universitas Muhammadiyah Jember,” jelasnya.
Sedangkan, Itok Wicaksono Kepala Program Studi Ilmu Pemerintahan Fisipol Universitas Muhammadiyah Jember menuturkan, tidak lepas dari perspektif Tata Kelola Pemerintahan Kolaboratif, asumsinya bahwa, pemerintah selama ini, baik pusat sampai daerah, tata kelolanya mengalami stagnasi, lamban, tidak inovatif dan kurang kreatif.
“Untuk itu lembaga kami, perlu mendorong tata kelola pemerintahan kolaboratif, menjadi praktek pemerintah daerah maupun pemerintah desa di Kabupaten Jember. Dengan tata kelola yang kolaboratif, diharapkan, pemerintah daerah dan pemerintah desa berubah polanya menjadi dinamis, cepat, inovatif dan kreatif.” Pungkasnya. (Yud)








