POLITIK – Jakarta 13 Februari 2026. Di tengah hingar-bingar politik nasional pasca Pemilu 2024, satu nama yang mulai banyak dibicarakan di lingkaran Partai Gerindra adalah Danang Wicaksana Sulistya, atau yang akrab disapa DWS. Politikus kelahiran Sleman, 4 Januari 1979 ini tampil sebagai figur yang tidak hanya loyal, tetapi juga menunjukkan pola gerak yang revolusioner, terutama dalam cara ia membangun basis politik lintas daerah dan mengartikulasikan ideologi partainya.
Langkah politik DWS bisa disebut tidak lazim sekaligus menarik. Ia menjabat sebagai Ketua DPD Gerindra DIY, namun justru terpilih menjadi anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah III, yang meliputi Blora, Grobogan, Pati, dan Rembang. Situasi ini menunjukkan dua hal: kemampuan membangun jaringan lintas wilayah dan keberanian mengambil risiko politik di luar zona nyaman. Dalam pernyataannya usai pelantikan, DWS menegaskan komitmennya untuk “mewakili masyarakat Blora, Grobogan, Pati, dan Rembang” meski akar politiknya kuat di Yogyakarta.
Rekam jejak DWS di Gerindra juga tidak singkat. Ia bergabung sejak awal pendirian partai, aktif di struktur DPP, dan pernah menjabat Ketua DPP Bidang Pekerjaan Umum. Sebelum duduk di Senayan, DWS sempat dua kali tampil di panggung pilkada sebagai calon wakil bupati dan calon bupati Sleman, meski keduanya berakhir dengan kekalahan. Justru dari rangkaian kegagalan itu, citra dirinya sebagai “kader pejuang” terbentuk: sosok yang terus bertahan di garis depan meski hasil elektoral belum berpihak.
Latar belakang pendidikan teknik sipil dari Universitas Islam Indonesia dan pengalaman profesional sebagai kontraktor memberikan warna tersendiri dalam cara DWS memaknai politik. Ia tidak sekadar bicara pada level slogan, melainkan menautkannya dengan problem konkret lapangan: jalan rusak, pasar tradisional yang perlu ditata, hingga kawasan transmigrasi yang harus ditingkatkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Di Komisi V DPR RI, pendekatan berbasis solusi infrastruktur ini menjadi “signature” yang membedakannya dari banyak politisi lain.
Keterkaitan DWS dengan figur Prabowo Subianto juga menjadi salah satu faktor penting. Dalam berbagai kesempatan, termasuk podcast Gaspol! di kanal YouTube Kompas.com, ia menjelaskan bahwa dirinya adalah bagian dari gelombang kader muda yang diajak langsung Prabowo ketika Gerindra didirikan sekitar 2007–2008. DWS menyebut politik sebagai “alat untuk memperbaiki kondisi bangsa”, sebuah pandangan yang ia pegang sejak diajak masuk ke dunia politik oleh sang ketua umum.
Dalam podcast itu pula, DWS mengurai sisi ideologis Gerindra yang selama ini jarang disampaikan secara runtut kepada publik. Ia menegaskan bahwa prinsip Trisakti Bung Karno berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan tertulis eksplisit dalam Anggaran Dasar Partai Gerindra. Posisi ini menegaskan bahwa Gerindra adalah partai yang sangat menjunjung nilai-nilai Soekarnoisme, dan DWS tampil sebagai salah satu juru bicara ideologis yang artikulatif untuk menjelaskan hal tersebut.
Dari sisi persepsi publik, figur DWS belum sepopuler tokoh-tokoh Gerindra lain di level nasional, namun ia memiliki pondasi yang kuat di akar rumput dan kalangan internal partai. Di media sosial, akun Instagram @danang_dancel menampilkan aktivitas lapangan yang padat: dari meninjau pembangunan pasar di Grobogan, memantau infrastruktur jalan di Blora, hingga mengikuti rapat kerja dengan mitra Komisi V terkait konektivitas, logistik, dan infrastruktur dasar. Pola komunikasinya cenderung teknokratis, namun tetap memakai bahasa yang mudah dicerna publik.
Di sisi lain, DWS juga dikenal sebagai kader yang menembus batas tradisional hubungan pusat-daerah. Ia memanfaatkan posisinya di DIY sekaligus Dapil Jateng III untuk membangun jembatan kepentingan: bagaimana program pembangunan nasional seperti infrastruktur dan transmigrasi bisa dirasakan manfaatnya oleh warga di daerah. Dalam berbagai pernyataan, ia menekankan pentingnya percepatan pemulihan infrastruktur pascabencana dan normalisasi sungai di Sumatera untuk memastikan distribusi logistik dan bantuan berjalan efektif.
Semua elemen ini loyalitas panjang di partai, kemampuan membangun jejaring lintas wilayah, basis teknokratik di bidang infrastruktur, dan kapasitas ideologis dalam menjelaskan Trisakti membentuk figur DWS sebagai politisi yang bergerak dengan pendekatan yang lebih struktural dan jangka panjang. Di tengah politik yang sering terjebak pada gimmick dan popularitas instan, Danang Wicaksana Sulistya muncul sebagai sosok yang mencoba mengubah peta permainan dengan menggabungkan militansi kader, kedalaman ideologis, dan fokus pada pembangunan nyata di lapangan.(UA/Red)








