Kritik Tajam terhadap Kualitas Animasi
Salah satu sorotan utama netizen adalah kualitas animasi Merah Putih Film Animasi. Banyak yang menyebut visualnya kaku dan kurang memikat. Gerakan karakter dianggap tidak natural, bahkan oleh beberapa netizen disebut “creepy”. Seorang pengguna X, @farizgaga1, membandingkan film ini dengan animasi lokal sebelumnya, Jumbo, yang sukses mencuri perhatian. Ia menulis, “Kartunnya creepy banget, jomplang sama Jumbo. Harusnya Jumbo jadi standar, ini malah downgrade.”
Kritik serupa juga muncul dari @muliaassegaf yang menyebut grafisnya mirip animasi lawas seperti Keluarga Somat. Meski ada yang mengakui adanya perkembangan dalam industri animasi Indonesia, banyak netizen merasa Merah Putih Film Animasi terkesan dibuat terburu-buru. Padahal, tren animasi 2025 menunjukkan lonjakan kualitas global, seperti hyperrealistic animation dan perpaduan gaya lintas budaya. Sayangnya, film ini dinilai gagal memenuhi ekspektasi tersebut.
Alur Cerita yang Dianggap Dipaksakan
Selain visual, alur cerita Merah Putih Film Animasi juga menjadi bahan gunjingan. Banyak netizen menilai plotnya terlalu terburu-buru dan kurang mendalam. “Premisnya oke, tapi eksekusinya lelet dan gak bikin connect sama karakternya,” tulis @mbahmuu_Ya di X. Trailer yang dirilis ternyata sudah membocorkan hampir seluruh alur, membuat penonton kehilangan elemen kejutan.
Netizen juga merasa cerita film ini terlalu berfokus pada misi patriotik tanpa pengembangan karakter yang kuat. Padahal, animasi modern kini menekankan storytelling emosional untuk membangun ikatan dengan penonton. Sebagai perbandingan, film animasi seperti Jumbo berhasil memikat hati publik dengan narasi yang kuat dan karakter yang relatable. Merah Putih Film Animasi seolah ingin mengejar momen kemerdekaan, tapi lupa memperhatikan kualitas cerita.
Pengisi Suara yang Kurang Berjiwa
Aspek lain yang tak luput dari kritik adalah pengisi suara. Netizen menyoroti kurangnya emosi dalam dialog karakter. “Suara karakternya datar, kayak baca naskah doang,” komentar salah satu warganet di X. Kualitas dubbing yang buruk membuat karakter terasa kurang hidup, sehingga sulit bagi penonton untuk terhubung secara emosional. Padahal, pengisi suara yang ekspresif adalah kunci dalam animasi untuk menyampaikan nuansa cerita.
Reaksi Netizen: Antara Kritik dan Dukungan
Meski banjir kritik, tidak semua respons negatif. Beberapa netizen memberikan dukungan kepada tim produksi Merah Putih Film Animasi. Mereka mengapresiasi upaya animator lokal yang tetap berani berkarya di tengah keterbatasan industri kreatif Indonesia. “Kritik boleh, tapi jangan lupa ini langkah awal. Animasi kita butuh dukungan biar maju,” tulis seorang pengguna di X.
Namun, suara dukungan ini tenggelam di tengah gelombang kritik. Hashtag #MerahPutihOne menjadi ajang curhat netizen tentang kekecewaan mereka. Banyak yang menyayangkan mengapa Merah Putih Film Animasi tidak mengambil pelajaran dari kesuksesan Jumbo, yang bahkan tembus Festival Film Cannes 2025 dan meraih 9 juta penonton. Perbandingan ini makin mempertegas ekspektasi tinggi publik terhadap animasi lokal.
Dampak Kritik terhadap Industri Animasi Lokal
Kritik terhadap Merah Putih Film Animasi juga memicu diskusi lebih luas tentang industri animasi Indonesia. Banyak yang berharap film ini bisa menjadi tonggak baru, seperti Jumbo yang membuktikan potensi animator lokal di kancah global. Namun, eksekusi yang kurang matang membuat publik khawatir bahwa proyek ini hanya dibuat untuk memenuhi agenda perayaan nasional, bukan untuk kualitas seni.
Di sisi lain, tren animasi global 2025 menunjukkan penggunaan teknologi AI untuk mempercepat produksi tanpa mengorbankan kualitas. Sayangnya, Merah Putih Film Animasi belum memanfaatkan tren ini secara optimal. Netizen menyarankan agar animator lokal lebih fokus pada proyek berdurasi pendek terlebih dahulu untuk mengasah kualitas sebelum menyasar layar lebar.








