TEKNOLOGI – JAKARTA, 29 Juli 2025. Persaingan di dunia kecerdasan buatan (AI) kian sengit. Meta, perusahaan di balik Facebook, Instagram, dan WhatsApp, agresif merekrut talenta terbaik dari OpenAI, pencipta ChatGPT. Fenomena Talenta OpenAI Pindah ke Meta jadi sorotan utama di industri teknologi. Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa para peneliti top beralih ke Meta? Simak ulasan berikut!
Meta Gencar Bajak Talenta OpenAI
Meta tak main-main dalam ambisinya mendominasi AI. Mark Zuckerberg, CEO Meta, langsung turun tangan merekrut talenta terbaik. Berdasarkan laporan terbaru, setidaknya sembilan peneliti senior OpenAI telah bergabung ke Meta.
Nama-nama besar seperti Shengjia Zhao, Jiahui Yu, Shuchao Bi, dan Hongyu Ren kini memperkuat Superintelligence Lab Meta. Tak hanya itu, tiga peneliti dari kantor OpenAI di Swiss—Lucas Beyer, Alexander Kolesnikov, dan Xiaohua Zhai—juga ikut pindah.
Mengapa Talenta OpenAI Pindah ke Meta begitu masif? Meta menawarkan paket kompensasi fantastis. Bayangkan, bonus tanda tangan hingga US$100 juta (Rp1,6 triliun) dan total gaji tahunan yang bahkan lebih besar! Zuckerberg juga menjanjikan akses tak terbatas ke chip mutakhir untuk riset AI. Tawaran ini sulit ditolak, terutama bagi peneliti yang ingin mendorong batas kecerdasan buatan.
Superintelligence Lab: Magnet Baru Talenta AI
Meta tak sekadar merekrut, mereka membangun ekosistem. Superintelligence Lab, divisi baru Meta, jadi pusat riset untuk mencapai Artificial General Intelligence (AGI). Lab ini dipimpin oleh Alexandr Wang, mantan CEO Scale AI, yang direkrut lewat akuisisi saham senilai US$14,3 miliar. Wang, bersama talenta OpenAI yang pindah ke Meta, fokus mengembangkan model AI yang setara atau bahkan melampaui GPT-4 dan o1 milik OpenAI.








