Festival Kunang-kunang di Rumah Nara Jember Hadirkan Seniman Pekarangan

Ambang HL

March 7, 2026

3
Min Read
Pembukaan Lokakarya Residensi Seniman Pekarangan dalam rangka Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 di Rumah Budaya Nara, Jember. (Foto: Istimewa)
Pembukaan Lokakarya Residensi Seniman Pekarangan dalam rangka Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 di Rumah Budaya Nara, Jember. (Foto: Istimewa)

JEMBER — Dalam rangkaian kegiatan Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026, Rumah Budaya Nara Jember menghadirkan Lokakarya Seniman Pekarangan. Kegiatan ini menjadi ruang residensi kreatif bagi Generasi Nara Bestari—mulai dari anak-anak hingga remaja—untuk belajar, berkolaborasi, dan menciptakan karya seni yang berakar pada kesadaran ekologis serta nilai-nilai kebudayaan lokal.

Owner Rumah Nara, Hadi Purnomo, mengatakan bahwa lokakarya ini dirancang sebagai ruang belajar kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari generasi muda, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan dan budaya sejak dini.

“Melalui Lokakarya Seniman Pekarangan ini, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang tidak hanya mengasah kreativitas seni, tetapi juga menumbuhkan kesadaran ekologis. Pekarangan menjadi ruang hidup yang menyatukan pengalaman budaya, lingkungan, dan proses kreatif anak-anak,” ujar pria yang akrab disapa Hadi itu, Jum’at (6/3/2026).

Baca Juga :  Sarasehan Ekologi Budaya PEKA 2026: Kunang-kunang sebagai Simbol Harmoni Manusia dan Alam

Lokakarya ini, lanjut Hadi, mengintegrasikan pembelajaran lintas disiplin seni, mulai dari seni tari, teater, seni rupa, tata busana, musik tradisi hingga digital art.

“Pendekatan pembelajaran menempatkan pekarangan sebagai ruang hidup sekaligus ruang budaya, yakni tempat bertemunya pengalaman keseharian, pengetahuan lokal, dan ekspresi seni secara alami,” paparnya.

Dengan pendekatan tersebut, para peserta tidak hanya mempelajari teknik berkesenian, tetapi juga diajak memahami hubungan antara manusia, lingkungan, dan kebudayaan sebagai satu kesatuan ekosistem kehidupan.

Sebagai bagian dari proses pembelajaran, Hadi menyebut bahwa peserta juga mengikuti kegiatan pengenalan ruang konservasi habitat kunang-kunang yang berada di lingkungan Rumah Budaya Nara.

“Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan pemahaman tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem sekaligus memaknai kunang-kunang sebagai simbol harmoni antara alam, cahaya, dan kebudayaan,” tegasnya.

Baca Juga :  Sasar Warga Tidak Terdata BLT, Program Polri Peduli Masyarakat ada di Desa Rowotamtu

Ia menambahkan, pendekatan edukatif tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap isu lingkungan melalui medium seni.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa seni tidak berdiri sendiri. Seni lahir dari ruang hidup, dari lingkungan sekitar, dari pengalaman budaya yang mereka rasakan setiap hari,” jelasnya.

Pada hari pertama kegiatan yang berlangsung pada 1 Maret 2026 lalu, kegiatan difokuskan pada orientasi konseptual, meliputi penyelarasan visi, pembacaan ruang budaya, serta perumusan strategi kolaboratif antara seniman dan komunitas. Program residensi ini akan berlangsung hingga 12 April 2026 mendatang, melalui tahapan eksplorasi gagasan, proses penciptaan karya, serta pendampingan artistik secara berkelanjutan.

“Untuk lokakarya ini diikuti sekitar 60 hingga 70 peserta yang berasal dari anak-anak dan remaja di sekitar Rumah Budaya Nara Bestari. Tingginya partisipasi tersebut menunjukkan antusiasme masyarakat terhadap ruang belajar seni dan lingkungan yang inklusif serta berbasis komunitas,” jelas Hadi.

Baca Juga :  Mantri Pasar Ambulu, Pastikan tidak Ada Penjual Daging Kucing di Wilayahnya

Hadi menambahkan, hasil dari proses lokakarya ini akan dipresentasikan kepada publik pada Juni hingga Juli 2026 dalam bentuk pameran karya, pertunjukan seni, serta panggung karnaval dunia melalui kolaborasi dengan Jember Fashion Carnaval (JFC).

“Melalui presentasi publik nanti, kami berharap karya-karya generasi muda ini dapat menjadi ruang dialog budaya, sekaligus mempertemukan kreativitas lokal dengan jejaring kreatif yang lebih luas,” katanya.

Melalui Lokakarya Seniman Pekarangan, Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan 2026 menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang belajar lintas generasi yang memadukan seni, lingkungan, dan pendidikan budaya. Inisiatif ini diharapkan mampu menyiapkan generasi kreatif yang memiliki kepekaan ekologis sekaligus kesadaran budaya untuk masa depan.

Bantu Ikuti Saluran : WhatsApp Kami

Dan Bantu Ikuti : Google News Kami

Related Post

 

×