JEMBER, Pelitaonline.co – Gerakan Mahasiswa Pembawa Perubahan Universitas Islam Jember (UIJ) geruduk Kantor Rektorat. Penggrudukan ini didasarkan pada sistem uij yang amburadul. Seperti penunjukan pejabat kampus tanpa sistem demokrasi.
Terlihat, aksi itu diikuti oleh puluhan mahasiswa yang berasal dari berbagai fakultas dengan membawa banner berbagai narasi yang berbeda. Seperti, Pak Rektor Medot Janji, Bapak Ibu Minum Ngak Dugem Nggak? Kok UUnya Ngawur?
Para demonstran mendesak rektorat agar bisa mendatangkan Rektor dan Yayasan, namun pihak kampus terkesan enggan mendatangkan. Buktinya, sampai aksi berlangsung Rektor dan Yayasan tidak hadir.
“Kami meminta kejelasan Statuta UIJ ini milik siapa? Kok Penunjukan pejabat secara semena-mena tanpa mengikuti regulasi yang ada,” kata Korlap aksi Muhammad Roni, Senin (7/3/2022) di sela-sela Aksi.
Roni mengatakan, tuntutan yang dilayangkan berupa perevisian statuta libatkan mahasiswa dalam penyusunan hingga mempublikasikan agar bisa diketahui secara umum.
“Namun, statuta yang tetapkan saat ini sangat bobrok. Kita kalah jauh dari kampus-kampus lain seperti Unisma (Universitas Islam Malang) yang lebih tua UIJ 2 tahun berdirinya,” ujarnya.
Seharusnya lanjut Roni, sesudah dari pihak BEM dan DPM UIJ melakukan kajian hampir 70 persen statuta yang telah diputuskan bersama dipublilasikan. “Jadi anggapan kita kampus terlalu nepotisme terhadap peraturan-peraturan sehingga timbulnya nanti patologi-patologi,” terangnya.
Sementara itu, pihak Rektor dan Yayasan UIJ tak kunjung datang. Hanya ditemui Wakil Rektor 1 dan 3, Kepala Biro, Kabag Humas dan juga LBH UIJ. Namun, para demonstran tetap menunggu hingga memasuki gedung Rektorat. (Diq/Yud)








