Namun, ada catatan penting. Andre Rosiade menekankan bahwa produk lokal harus kompetitif, baik dari segi kualitas maupun harga. Jika tidak, kebijakan TKDN bisa jadi bumerang, membuat proyek BUMN membengkak dan tidak efisien. Pemecatan pejabat Pertamina oleh Presiden jadi momentum untuk mengevaluasi kembali pengelolaan proyek di BUMN.
Pertamina di Bawah Tekanan Publik
Skandal pemecatan dan korupsi membuat Pertamina berada di bawah sorotan tajam. Publik mulai mempertanyakan transparansi dan akuntabilitas perusahaan. Meski Pertamina membantah adanya “oplosan” Pertamax dan menegaskan kualitas bahan bakar sesuai standar, kepercayaan masyarakat tergerus. Apalagi, keluhan soal kualitas BBM seperti Pertamax pernah mencuat di Papua dan Palembang.
Di sisi lain, pergantian pimpinan juga terus terjadi. Pada November 2024, Menteri BUMN Erick Thohir mengganti Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati dengan Simon Aloysius Mantiri. Pergantian ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menata ulang manajemen perusahaan. Namun, apakah langkah ini cukup untuk memulihkan kepercayaan publik?
Langkah ke Depan untuk Pertamina
Setelah pejabat Pertamina dipecat Presiden dan kasus korupsi mencuat, perusahaan ini harus berbenah. Transparansi dalam pengelolaan proyek dan pengawasan ketat terhadap kualitas produk jadi keharusan. Selain itu, Pertamina perlu memastikan bahwa kebijakan TKDN dijalankan tanpa kompromi, tapi juga dengan efisiensi.
Pemerintah juga punya peran besar. Dukungan terhadap industri lokal harus diimbangi dengan pengawasan agar tidak ada penyelewengan. Kasus pemecatan pejabat Pertamina oleh Presiden menjadi pelajaran bahwa profesionalisme dan nasionalisme harus berjalan beriringan.
Kini, Pertamina berada di persimpangan. Dengan manajemen baru dan tekanan untuk memperbaiki citra, perusahaan ini harus membuktikan komitmennya pada kepentingan nasional. Publik menanti langkah nyata agar skandal serupa tidak terulang.








