PERISTIWA – Jakarta, 16 Juni 2025. Ketegangan di Timur Tengah mencapai puncaknya ketika Kolonel Reza Sayyad, juru bicara Angkatan Bersenjata Iran, mengeluarkan ultimatum keras kepada warga Israel untuk segera meninggalkan wilayah yang mereka duduki. Peringatan ini disampaikan menyusul eskalasi konflik yang dimulai dengan Operasi Rising Lion Israel pada 13 Juni 2025, yang menargetkan fasilitas nuklir dan militer Iran.
Ultimatum Keras dari Tehran untuk Israel
Dalam siaran televisi negara Iran pada Minggu 15 Juni 2025, Kolonel Reza Sayyad menyampaikan pesan yang menggetarkan: “Peringatan bagi kalian dalam beberapa hari ke depan; tinggalkan wilayah yang kalian duduki, karena tentu saja, mereka tidak akan dapat dihuni di masa depan!”. Pernyataan ini menandai eskalasi baru dalam konflik berkepanjangan antara kedua negara rival regional tersebut.
Sayyad menegaskan bahwa cakupan respons “menghancurkan” dari pejuang Iran akan meliputi seluruh wilayah yang diduduki Israel. Ia memperingatkan bahwa berlindung di bawah tanah tidak akan menjamin keselamatan bagi warga Israel, sambil mendesak mereka untuk tidak membiarkan pemerintah Israel menjadikan mereka sebagai perisai manusia.
Latar Belakang Operasi Rising Lion
Konflik terkini bermula dari serangan masif Israel yang diberi nama kode “Operasi Rising Lion” pada dini hari 13 Juni 2025. Operasi ini merupakan serangan terbesar terhadap Iran sejak Perang Iran-Irak pada dekade 1980-an, melibatkan lebih dari 200 pesawat tempur Israel yang menjatuhkan 330 amunisi presisi pada sekitar 100 target.
Target utama serangan Israel mencakup fasilitas nuklir Natanz, kompleks konversi uranium Isfahan, dan berbagai instalasi militer Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Serangan ini berhasil menewaskan sejumlah pejabat tinggi militer Iran, termasuk Komandan IRGC Hossein Salami dan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Mayor Jenderal Mohammad Bagheri.
Operasi True Promise III: Balasan Iran yang Mematikan
Sebagai respons, Iran meluncurkan “Operasi True Promise III” pada malam hari 13 Juni 2025, menembakkan lebih dari 150 rudal balistik dan 100 drone ke berbagai target di Israel. Serangan balasan ini menargetkan infrastruktur militer dan intelijen Israel, namun juga menyebabkan korban sipil yang signifikan.
Data terbaru menunjukkan korban yang terus bertambah di kedua belah pihak. Di Israel, sedikitnya 10 orang tewas dalam serangan Iran pada 15 Juni, termasuk dua anak-anak di Bat Yam ketika rudal menghantam gedung apartemen 10 lantai. Sementara itu, Iran melaporkan 78 korban tewas pada hari pertama serangan Israel, dengan ratusan lainnya mengalami luka-luka.
Dampak Terhadap Pasar Energi Global Perang Israel Iran
Eskalasi konflik Iran-Israel telah memicu guncangan hebat di pasar energi global. Harga minyak mentah Brent melonjak 7,63% menjadi $74,65 per barel, sementara WTI naik 7% ke $73,42 per barel dalam perdagangan Jumat. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran investor akan potensi gangguan pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang kaya energi.
Para analis memperingatkan bahwa dalam skenario terburuk, Iran dapat menghambat aliran 5 juta barel minyak per hari melalui serangan terhadap infrastruktur atau dengan memblokir Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi 20% perdagangan minyak dunia, menghubungkan produsen besar Timur Tengah dengan pasar global.
Berdasarkan laporan media internasional terpercaya, konflik ini telah mengakibatkan korban sipil di kedua belah pihak. Di Israel, serangan Iran menyebabkan 10 kematian pada 15 Juni, dengan korban termasuk anak-anak berusia 8 dan 10 tahun di Bat Yam. Empat orang lainnya tewas di kota Tamra ketika rudal Iran menghantam bangunan tempat tinggal.
Iran melaporkan korban yang lebih besar, dengan 78 orang tewas pada hari pertama serangan Israel dan ratusan lainnya luka-luka. Serangan Israel menargetkan bangunan tempat tinggal di Tehran dan fasilitas strategis lainnya, menyebabkan korban sipil termasuk perempuan dan anak-anak.
Implikasi Diplomatik dan Regional Imbas Perang Israel Iran
Konflik ini telah mengganggu upaya diplomatik regional dan global. Iran memberi tahu mediator Qatar dan Oman bahwa Tehran “tidak akan bernegosiasi saat diserang”, menandakan penghentian sementara jalur komunikasi diplomatik. Pembicaraan nuklir AS-Iran yang dijadwalkan di Oman juga dibatalkan akibat eskalasi ini.
Presiden AS Donald Trump telah mendesak kedua negara untuk “membuat kesepakatan” dan mengakhiri pertukaran serangan yang mematikan. Namun, ia juga memveto rencana Israel untuk membunuh Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, menunjukkan upaya Washington untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.
Peringatan Kolonel Sayyad mencerminkan tekad Iran untuk melanjutkan serangan balasan hingga dirasa cukup. Ia menegaskan bahwa Angkatan Bersenjata Iran kini memiliki database komprehensif dari semua lokasi vital dan sensitif di wilayah pendudukan Israel dan dapat menyerang target mana pun kapan saja.
Sementara itu, Israel juga mengeluarkan peringatan evakuasi kepada warga Iran yang tinggal dekat fasilitas senjata dan instalasi militer. Menteri Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa militer Israel akan terus “menguliti kulit ular Iran” dengan menargetkan kemampuan nuklir dan sistem persenjataan.
Konflik Iran-Israel yang memasuki hari keempat ini menandai eskalasi paling serius dalam hubungan kedua negara, dengan potensi dampak yang meluas ke seluruh kawasan Timur Tengah. Peringatan evakuasi dari kedua belah pihak menunjukkan bahwa konfrontasi ini masih jauh dari penyelesaian, sementara komunitas internasional terus mendesak de-eskalasi untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.(UA/Red)








