BPBD Jember Menginformasikan Bencana Hidrometeorologi Dominasi Jember di Awal 2026,

Lukman Hakim

September 2, 2026

2
Min Read

Pelitaonline.co JEMBER – 02 Sept 2026.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi perubahan musim. Berdasarkan data semester pertama tahun 2026, Jember mencatat 345 kejadian bencana yang terdiri atas 274 bencana alam dan 71 bencana non-alam.

Kepala BPBD Kabupaten Jember, Edy Budi Susilo, mengonfirmasi bahwa bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan angin kencang mendominasi selama musim penghujan. Dampak terparah dipicu oleh banjir bandang yang menerjang wilayah hulu Sungai Badean hingga Pakis dan Ambulu.

​”Rangkaian peristiwa bencana alam pada periode tersebut mengakibatkan dua korban jiwa di wilayah Pakis dan Curahmalang,” ujar Edy dalam kegiatan Ruang Diskusi Media, Senin (01/09/2026).

Baca Juga :  SDGs jadi Prioritas Penggunaan DD tahun 2021

Memasuki musim kemarau, titik fokus ancaman bergeser pada kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Hingga 31 Agustus 2026, kekeringan meluas ke delapan kecamatan: Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, dan Patrang, dengan total terdampak lebih dari 1.000 kepala keluarga.

Guna mengatasi krisis air bersih, BPBD menyalurkan 507.500 liter air melalui 103 kali pengiriman armada tangki. Penyaluran disesuaikan dengan intensitas kebutuhan wilayah terdampak, berkisar antara dua hingga empat hari sekali.

​BPBD juga memperbarui peta kerawanan akibat munculnya titik kekeringan baru di zona hijau, tepatnya di Desa Banjarsari (Kecamatan Bangsalsari) dan Desa Panduman (Kecamatan Jelbuk). Sebagai antisipasi kekeringan yang diprediksi berlangsung hingga Oktober, 30 unit tandon air telah ditempatkan di lokasi terdampak dengan suplai air yang diambil dari enam titik sumber berdebit stabil.

Baca Juga :  Sentuh Kemiskinan Ekstrem, Gus Fawait Sebut Sekolah Rakyat Jember Setara Taruna Nusantara Gratis

Selain kekeringan, ancaman karhutla turut meningkat. Hingga akhir Agustus, tercatat kebakaran menimpa 3 kawasan hutan dan 10 kawasan lahan. Insiden terbesar terjadi di Gunung Watangan, Desa Lojejer, yang membakar lahan seluas 6,5 hektare. Penanganan telah dilakukan secara terpadu bersama Perhutani, Muspika, dan relawan. BPBD mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan selama musim kemarau guna mencegah meluasnya kebakaran. ( Lukman)

Bantu Ikuti Saluran : WhatsApp Kami

Dan Bantu Ikuti : Google News Kami

Related Post

 

×