JEMBER,Pelitaonline.co – Jembatan Penghubung Dusun Sumberdandang dengan Lamparan Desa Kertosari Kecamatan Pakusari, sejak awal tahun 2021 ambrol, hingga kini belum ada penanganan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember.
Kini Jembatan yang berada di sebelah Barat Perumahan Wali Songo, telah berubah bentuk berupa bambu dan kayu selebar 1,2 meter dan panjang 15 meter. Hanya saja, kondisinya sekarang sudah mulai reyot. Setiap kali pengendara sepeda ontel melintas untuk menyeberangi anak sungai Kali Mayang ini, kayu dan bambunya bergetar dan bersuara.
Kondisi itu, membuat warga setempat pun merasa geram, sebab belum ada kejelasan penanganan serius dari pemerintah. Mengingat, jika terus dibiarkan seperti ini, Jembatan alternatif tersebut berpotensi memakan korban jiwa.
“Soalnya kayu dan bambunya sudah mulai rapuh, lama kelamaan akan patah, takutnya jembatan ini patah saat dilintasi orang, anak sekolah pun sering lewat sini, aksesnya lebih dekat daripada berputar lewat Pakusari,”ujar Ketua RW 09 Dusun Sumberdandang Fathurrohman, Kamis (4/8/2022)
Fathur menjelaskan, terkait pembuatan jembatan alternative bukan dari pemerintah, namun inisiasi dari organisasi pemuda dengan sumber dana dari swadaya masyarakat. Karena, bangunan ini sebagai jalur tercepat bagi anak-anak sekolah menuju ke lokasi yayasan pendidikan.
“Di daerah Dusun Laparan baratnya jembatan ini, kan ada sekolahan, khusunya anak TK dan Paud Gita Nusa Juga Lembaga Yayasan Nidomiyah, soalnya kalau muter dari terminal jauh,” jelas Fathur.
Fathur mengatakan, sejak ambrol pada Januari 2021 lalu Jembatan sudah ditinjau beberapa kali oleh Camat Pakusari, hingga Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember, tetapi hingga kini belum ada perbaikan.
“Habis ditinjau tidak ada kejelasan sampai sekarang, di APBD 2021 kemarin sepertinya juga tidak masuk, padahal hampir bersamaan ambrol nya sama Jembatan Klungkung,”jelas Fathur.
Sebelum ambrol, kata Fathur, lebar jembatan 2 meter,dan bisa dilewati satu mobil. Namun setelah ambrol, warga hanya bisa membuat jembatan dengan lebar 1,2 meter, hal itu dikarenakan keterbatasan anggaran.
“Jika pemerintah tidak sigap dan sesegera membangun jembatan baru, dikhawatirkan akan ada korban jiwa. Sebab, bangunan alternatif ini hanya terbuat dari kayu, dan mudah patah,” urainya.
Jembatan alternatif sambung Fahtur, hampir tiga bulan sekali, harus dilakukan pembenahan seperti mengganti kayu dan bambunya. Sehingga tidak mungkin setiap kali hendak perawatan selalu meminta sumbangan ke warga.
“Meskipun warga tidak keberatan kita mintai urunan, tapi masa iya gitu terus, kan kasihan. Kita punya wakil rakyat Dapil 3, kita juga punya pemerintah,” jelasnya
Sementara ini, Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Sumber Daya Air Jember Siswanto belum bisa dikonfirmasi, sebab ketika didatangi dikantornya, Syafi’I seorang Satpol PP mengatakan sedang ada tamu dari Jakarta.
“Masih tamu dari Jakarta, jadi belum bisa dimintai komentar,” ucapnya.
Terkait persoalan tersebut, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Jember dari Daerah Pemilihan 3 Mufid belum bisa berkomentar dengan dalih masih ada acara Hajian, “Insyaallah nanti malam, karena saudara datang haji, kali besok kita ketemu, bisa konfirmasi ke PU dulu mas.” Tulisnya melalui pesan WhatsApp. (Awi/Yud)








