JEMBER, Pelitaonline.co – Kalau anda biasa nonton Chanel TV tentang dunia binatang, maka kita akan banyak menemukan siasatnya para binatang di hutan dalam hal melakukan serangan maupun dalam pertahanan.
Didunia manusia pun demikian. Siasat itu selalu melekat dalam setiap individu. Entah dia yang jujur, agamis, maupun tukang bohong sekalipun.
Siasat dibutuhkan untuk sebuah tujuan dan kepentingan hidupnya.
Tak terkecuali ditempat pelacuran persawahan di Desa Kasiyan Kecamatan Puger, Kabupaten Jember.
Para pelacur tua disana mempraktek siasat-siasatnya ditengah persaingan digitalisasi dunia prostitusi.
Pangkalan persawahan pelacur tua digelapnya malam
Malam itu, tampak penjual kopi dengan gerobak di atas sepeda motornya hanya sendirian berjualan di areal tengah sawah yang sangat luas itu.
Ada 5 buah lampu LED terpasang di atas gerobaknya. Lampu itu sekaligus berfungsi menerangi suasana malam di tengah persawahan luas nan gelap gulita.
Disekeliling lapak jualan kopinya bapak itu, juga terlihat ada sekitar 4 pelacur yang usianya sudah kategori tua. antara umur umur 45 sampai 50 an.
Dikatakan tua, karena mestinya mereka sudah pensiun.
Seperti dalam karir sepak bola, umur 30 gantung sepatu, umur 40-50 jadi pelatih, umur 50-60 jadi pemilik klub .
Tetapi mereka ini sudah umur 50 an masih tetap jadi pemain (pelacur). Mestinya, tahapan karirnya sudah menjadi pemilik warung esek esek atau menjadi pemilik panti pijat plus plus.
Keempat pelacur itu ada yang duduk selonjor di atas rerumputan disebelah utara lapaknya bapak penjual kopi tadi.
Kepada wartawan, salah satu perempuan mengenalkan diri bernama Mbak Rus (nama samaran),. Sebelah kanan, 5 meteran dari posisi Mbak Rus, namanya Mbak Mun. Umurnha 50 puluhan (nama samaran). Agak jauh dari Mbak Mun, namanya Mbak Har . umur 45-an. Di sebelah selatan berjarak 5 meter lagi bernama Mbak Sum, umurnya 47 tahunan.
Mbak Sum ini selalu menyendiri dan jarang berkumpul dengan temannya.
Hanya Mbak Sum yang tersorot langsung cahaya lampu lapaknya penjual kopi tersebut. Sedang posisinya Mbak Mun dan Mbak Rus tidak tersorot lampu.
Sebenarnya Mbak Rus itu lebih muda, lebih bersih kulitnya dan lebih cantik daripada Mbak Sum. Dan penampilannya lebih menarik Mbak Rus.
Ibarat merk HP, Mbak Rus ini Black Berry atau Nokia, sedang Mbak Sum itu merk Samsung sebelum Samsung berubah ke Android. HP merk Black Barry, Nokia, gulung tikar karena tak cerdas membaca perubahan diluar. Sedang samsung berjaya dipasaran, karena pandai membaca perubahan dan lekas menginovasi dirinya.
Mbak Sum walau lebih tua dari Mbak Rus dan kalah kualitas tubuh, tetapi dia mau menginovasi atau mensiasati kelemahannya yang ada pada tubuhnya.
Siasat Mbak Sum
Pertama, Mbak Sum tidak pernah mau menghadapkan wajahnya ke cahaya terangnya lampu lapak penjual kopi itu.
Bila ada tamu hidung belang yang menyelidik wajahnya, ia menyembunyikan dengan menunduk membelakangi cahaya lampu. Lalu ia hanya menonjolkan pinggang dan pahanya yang terlihat masih sintal dalam suasana remang.
Kedua, Mbak Sum melakukan revolusi pelayanan. Menurut penuturan pelanggan hidung belang, kenapa ia lebih memilih Mbak Sum daripada Mbak Rus. Jawabnya, kalau Mbak Rus itu gak mau di ciumi. Sedangkan Mbak Sum itu mau diapakan saja sesuai dengan selera pelanggan.
Ketiga, Mbak Sum melakukan taktik “Jemput Bola”. Berbeda dengan Mbak Rus yang selalu diam menunggu diseret ketengah Kebun jagung di persawahan itu, justru Mbak Sum mendatangi gerombolan hidung belang yang sedang duduk duduk di pinggiran jalan persawahan. Ia menawarkan program pelayanan dan lain lain. Para lelaki hidung belang itu merasa dirajakan meski pergumulannya nanti di atas pematangan sawah.
Ketiga siasat yang dilakukan oleh Mbak Sum ini cukup sukses. Jika Mbak Rus Cuma dapat 1 pelanggan, maka Mbak Sum sudah menyeret 5 lelaki hidung belang ketengah kebun setiap malam.
Persaingan menuntut Mbak Sum harus bersiasat canggih
Berbeda dengan Mbak Sum, sikapnya Mbak Rus sudah meresa mapan dan nyaman dengan kondisinya. Sehinggah dia lengah dengan perubahan zaman.
Perusahaan raksasa seperti Nokia dan Black Berry saja gulung tikar, jika tak cepat melakukan inovasi, apalagi Cuma seperti Mbak Rus.
Apalagi dengan sikap Mbak Mun pelacur tua lainnya yang sudah berumur 50 tahunan dan penampilannya sudah tak layak jual, tetap tidak merasa terancam dengan keadaan, dan tidak melakukan siasat apapun. Sehingga, sekitar semingguan saja ia bertahan disana. Selanjutnya, ia terlempar dari arena persaingan.
Sementara itu, Mbak Sum harus pandai bersiasat. Sebab ia sudah tak mungkin laku ditempat lain. Hanya pangkalan itulah satu satunya sebagai tempat mencari nafkah hidup.
Sebab, pangkalan pelacur persawahan di desa Kasiyan tersebut dikepung oleh berbagai tempat pelacuran yang menawarkan seksualitas yang lebih baik. Di desa Jambi arum ada tempat tempat pelacuran warung Kopi. Sedang di sebelah selatannya Desa Kasiyan, sekitar 5 KM dari pangkalannya Mbak Sum, ada tempat pelacuran di Desa Besini yang merupakan lokalisasi pelacuran terbesar di Kabupaten Jember.
Belum lagi dengan keberadaan prostitusi online yang mulai menyebar ke pedesaaan. Semua menawarkan jasa pelayanan yang secara kualitas jauh lebih baik daripada pelacur pangkalan.
Pertanyaannya pada Mbak Sum, sampai kapan sampean mampu bersiasat ditengah persaingan digitalisasi dunia prostitisi ini?
Penulis : Saiful Rahman








