Oleh: Dr. Muhammad Zain
(Ketua Umum BPP-KKMSB/ Dosen UIN Syarifhidayatullah, Jakarta/ Kepala Biro SDM Kemenag RI)
“Tidak ada Lebaran tanpa mudik, sebagaimana tidak ada Ramadhan tanpa tarawih.”
— Andre Moller, Ramadan di Jawa (2005)
Mudik sebagai Fenomena Kultural
Setiap menjelang Idul Fitri, Indonesia menyaksikan salah satu mobilitas massa terbesar di dunia: mudik. Jutaan orang bergerak dari kota-kota besar menuju kampung halaman, meninggalkan hiruk-pikuk metropolitan demi berkumpul dengan keluarga dan sanak saudara. Fenomena ini bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan sebuah ritual sosial-keagamaan yang berakar dalam pada identitas kultural masyarakat Indonesia. Pada tahun 2024, Kepolisian Nasional mencatat rekor 193 juta orang yang berpartisipasi dalam siklus mudik Lebaran (Wikipedia, “Mudik,” 2025). Angka ini menjadikan mudik sebagai salah satu migrasi musiman terbesar di muka bumi, melampaui eksodus Tahun Baru Imlek di Tiongkok dalam hal proporsi terhadap populasi nasional.
Secara etimologis, kata “mudik” berasal dari kata “udik” dalam bahasa Melayu yang bermakna hulu sungai atau pedalaman (KBBI, 2016). Dalam konteks sejarahnya, masyarakat Melayu yang tinggal di hulu sungai sering bepergian ke hilir untuk berbagai keperluan, lalu kembali ke udik pada sore hari. Istilah ini kemudian bertransformasi maknanya menjadi “pulang ke kampung halaman” seiring dengan perkembangan urbanisasi masif di era Orde Baru pada dekade 1970-an, ketika Jakarta menjadi pusat gravitasi ekonomi dan politik nasional (Tempo.co, 2023; PeMad, 2025).
Prof. Nurcholish Madjid, cendekiawan Muslim Indonesia terkemuka, pernah menyatakan bahwa Idul Fitri merupakan “puncak pengalaman hidup sosial keagamaan rakyat Indonesia.” Pernyataan ini menjelaskan mengapa, meskipun secara teologis Idul Fitri adalah idul shaghir (perayaan kecil) dan Idul Adha adalah idul kabir (perayaan besar), kenyataan sosial di Indonesia justru berjalan sebaliknya. Semangat mudik begitu kuat sehingga krisis moneter, pandemi, bahkan lonjakan harga tiket transportasi tidak mampu menghentikan arus pulang kampung (Moller, 2005: 258).
Dimensi Spiritual Mudik dalam Islam
Di balik kemeriahan tradisi mudik, terkandung dimensi spiritual yang mendalam. Meskipun tidak ada dalil syar’i yang secara eksplisit mewajibkan mudik, substansi tradisi ini sangat sejalan dengan prinsip birr al-walidain (berbakti kepada kedua orang tua) yang ditegaskan dalam Al-Qur’an. Surah al-Isra’ (17): 23–24 memerintahkan umat Islam untuk berbuat baik kepada ibu bapak, bertutur kata hormat, dan merendahkan hati terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang. Mudik, dalam konteks ini, menjadi manifestasi konkret dari perintah Ilahi tersebut.
Lebih jauh lagi, mudik dapat dimaknai sebagai perjalanan spiritual menuju asal-muasal. Konsep “kembali kepada asal” ini paralel dengan makna esensial Idul Fitri itu sendiri, yang secara linguistik dapat diartikan sebagai “kembali kepada kesucian” (fitrah). Dalam perspektif tasawuf, perjalanan pulang kampung menjadi metafora bagi perjalanan ruhani manusia kembali kepada Sang Pencipta, sebagaimana diungkapkan dalam kalimat inna li Allah wa inna ilaihi raji’un—“Sesungguhnya kita milik Allah, dan kepada-Nya kita akan kembali.”
Sebuah riwayat menceritakan bahwa ketika angin memadamkan lampu (lilin) di rumah Nabi Muhammad SAW, beliau langsung mengucapkan inna li Allah wa inna ilaihi raji’un. Ketika Aisyah bertanya mengapa kalimat itu diucapkan padahal tidak ada yang meninggal, Nabi menjawab bahwa api tadinya dari tiada, lalu kembali kepada tiada. Kisah ini menegaskan bahwa konsep “kembali” dalam Islam tidak terbatas pada peristiwa kematian, melainkan menjadi kesadaran eksistensial yang melekat dalam setiap aspek kehidupan (Mulyadi, 2009).
Tradisi ziarah kubur yang menyertai mudik juga memiliki dimensi spiritual yang penting. Di Jawa, tradisi “nyekar”—mengunjungi makam leluhur menjelang Ramadhan—menjadi bagian integral dari siklus mudik. Di Aceh, terdapat tradisi “Kenduri Makam” yang diadakan pada hari ke-12 setelah Idul Fitri, di mana masyarakat mengunjungi makam keluarga sambil membawa berbagai hidangan khas Aceh untuk dinikmati bersama (PeMad, 2025). Tradisi serupa juga ditemukan di Turki dan komunitas Muslim Tiongkok, yang memelihara kebiasaan ziarah ke makam leluhur pasca-Lebaran.
Mudik di Indonesia: Skala, Dampak, dan Dinamika
Indonesia merupakan negara dengan tradisi mudik paling masif di dunia Muslim. Pada tahun 2013, sekitar 30 juta orang melakukan perjalanan mudik dengan total belanja sekitar 90 triliun rupiah (sekitar 9 miliar dolar AS) di wilayah pedesaan. Angka ini terus meningkat secara signifikan: dari 33 juta pada 2017 menjadi 80 juta pada 2022, dan melonjak hingga 193 juta pada 2024. Untuk tahun 2026, Kementerian Perhubungan memproyeksikan sekitar 143,91 juta orang atau 50,60 persen dari total populasi Indonesia akan bepergian selama musim Lebaran (Xinhua, 2026).
Dampak ekonomi mudik sangat signifikan. Tradisi ini menjadi mekanisme redistribusi keuangan secara alamiah. Mengingat sekitar 70 persen uang beredar terkonsentrasi di Jakarta, arus mudik membantu menyebarkan hasil pembangunan ke seluruh pelosok Nusantara. Para pemudik biasanya pulang dengan membawa oleh-oleh, pakaian baru, perangkat elektronik, dan uang tunai yang kemudian dibelanjakan di kampung halaman. Fenomena ini menggerakkan sektor transportasi, perhotelan, perdagangan, dan industri barang konsumsi secara masif (Iriany et al., 2019).
Di sisi lain, mudik juga menghadirkan tantangan serius. Kemacetan lalu lintas yang ekstrem, terutama di jalur Trans-Jawa dan Pantai Utara Jawa, menjadi pemandangan tahunan. Kecelakaan lalu lintas, lonjakan harga tiket hingga tiga kali lipat, dan overkapasitas angkutan umum merupakan masalah klasik yang terus diupayakan solusinya oleh pemerintah. Program mudik gratis, pembangunan jalan tol Trans-Sumatera, penambahan armada kereta api dan penerbangan, serta kebijakan satu arah (one way) di jalan tol merupakan sebagian dari upaya tersebut.
Tradisi Pulang Kampung di Pakistan
Pakistan, dengan populasi Muslim terbesar kedua di dunia, juga memiliki tradisi pulang kampung yang sangat kuat menjelang Idul Fitri. Jutaan warga Pakistan yang bekerja di kota-kota besar seperti Karachi, Lahore, dan Islamabad bergerak menuju kota-kota kecil dan desa asal mereka untuk merayakan Lebaran bersama keluarga. Fenomena ini menciptakan lonjakan luar biasa pada sistem transportasi nasional, terutama jalur kereta api.
Pada Maret 2026, Pakistan Railways mengoperasikan empat kereta api khusus Lebaran (Eid Special Trains) untuk mengakomodasi lonjakan penumpang. Kereta pertama berangkat dari Lahore menuju Karachi pada 16 Maret, diikuti rute Quetta–Rawalpindi, Karachi–Peshawar, dan Karachi–Lahore pada hari-hari berikutnya. Salah satu kereta khusus yang berangkat dari Karachi menuju Peshawar pada 18 Maret 2026 mengangkut 1.176 penumpang dalam 16 gerbong, dengan 31 pemberhentian sepanjang perjalanan (Dawn, 18 Maret 2026; Pakistan Today, 18 Maret 2026).
Pemandangan di Stasiun Cantonment Karachi sangat menggugah: peron dipenuhi koper, tas jinjing, barang bawaan yang dibungkus seprai atau karung plastik, dan buah-buahan, sementara para penumpang menunggu keberangkatan dengan penuh antusiasme. Altaf Ahmed dan Basheer Ahmed, dua bersaudara yang bekerja sebagai pedagang buah di Karachi, menyatakan bahwa Lebaran adalah satu-satunya waktu dalam setahun ketika mereka bisa berkumpul dengan anak-anak mereka di Bahawalpur (Dawn, 2026).
Pemerintah Pakistan juga memberikan diskon 20 persen untuk seluruh tiket kereta api kelas mail, express, dan intercity selama tiga hari pertama Idul Fitri. Kebijakan ini bertujuan memastikan tradisi silaturahmi tidak terhambat oleh kendala ekonomi (Travel and Tour World, 2026). Selain transportasi kereta api, jalur-jalur bus antarkota dan terminal penumpang juga mengalami lonjakan aktivitas yang luar biasa.
Malam menjelang Lebaran di Pakistan, yang dikenal sebagai chaand raat (malam bulan), memiliki atmosfer perayaan tersendiri. Pasar-pasar tetap buka hingga dini hari, seniman henna (mehendi) bekerja tanpa henti, dan keluarga-keluarga sibuk menyelesaikan persiapan terakhir. Keesokan paginya, setelah salat Ied berjamaah, keluarga berkumpul untuk menikmati sheer khurma (hidangan susu manis dengan vermiselli) dan halwa puri, diikuti tradisi pemberian eidi (uang tunai) kepada anak-anak dan kunjungan dari rumah ke rumah (Brandsynario, 2026).
Tradisi Idul Fitri di Mesir
Di Mesir, Idul Fitri dirayakan dengan nuansa yang berbeda dari Indonesia dan Pakistan. Meskipun tidak terdapat fenomena eksodus massal seperti mudik di Indonesia, masyarakat Mesir memiliki tradisi kunjungan keluarga yang sangat kuat pada hari raya. Keluarga-keluarga berkumpul di rumah patriarch (kepala keluarga tertua) setelah menunaikan salat Ied di masjid-masjid besar seperti Al-Azhar dan Sultan Hassan di Kairo (Daily News Egypt, 2025).
Salah satu tradisi khas Mesir yang paling menonjol adalah pembuatan kahk, kue tradisional yang ditaburi gula halus dan diisi kurma, kacang, atau madu. Proses membuat kahk menjadi ritual keluarga lintas generasi, di mana nenek mewariskan resep rahasianya sementara anak-anak ikut membentuk dan menghias kue tersebut. Anak-anak juga menerima eidiya (hadiah uang tunai Lebaran) dari anggota keluarga yang lebih tua, sebuah tradisi yang menguatkan ikatan antargenerasi.
Warga Kairo yang berasal dari daerah pedesaan di sepanjang Sungai Nil memang melakukan perjalanan pulang ke kampung halaman mereka, namun skalanya tidak sebanding dengan mudik Indonesia. Yang lebih menonjol di Mesir adalah tradisi berkunjung ke taman-taman publik dan tempat-tempat wisata bersama keluarga pada hari-hari raya. Di kota-kota seperti Alexandria, keluarga-keluarga memadati kawasan corniche (tepi laut) untuk berjalan-jalan menikmati suasana Lebaran, sementara di Luxor dan Aswan, kuil-kuil kuno menjadi latar belakang perayaan yang menakjubkan (Daily News Egypt, 2025; AP, 2026).
Perbedaan mendasar antara tradisi Lebaran di Mesir dan Indonesia terletak pada struktur urbanisasi dan pola migrasi. Di Indonesia, urbanisasi masif dari desa ke kota sejak era Orde Baru menciptakan jarak fisik yang besar antara tempat kerja dan kampung halaman, sehingga Lebaran menjadi momentum utama untuk pulang. Di Mesir, meskipun Kairo merupakan megacity, ikatan keluarga besar tetap terjaga melalui kunjungan rutin yang lebih sering, sehingga Lebaran lebih berfungsi sebagai intensifikasi silaturahmi ketimbang satu-satunya kesempatan pulang kampung.
Komparasi Lintas Negara: Pola dan Makna
Fenomena pulang kampung menjelang Idul Fitri, dengan berbagai variasi dan intensitasnya, ditemukan di hampir seluruh negara berpenduduk mayoritas Muslim. Di Malaysia, tradisi ini dikenal sebagai balik kampung, di mana hari pertama Lebaran dimulai dengan salat berjamaah di masjid, memohon maaf kepada keluarga, dan mengunjungi makam orang-orang tercinta. Tradisi “rumah terbuka” (open house) menjadi ciri khas perayaan Lebaran Malaysia, di mana keluarga-keluarga saling mengunjungi sambil menikmati hidangan tradisional seperti ketupat dan rendang.
Di Bangladesh, pola serupa juga terjadi dengan jutaan perantau yang kembali ke kampung halaman menjelang Lebaran, menciptakan lonjakan lalu lintas di stasiun kereta api, terminal bus, dan pelabuhan feri. Di Arab Saudi, sebagaimana dicatat dalam dokumen sumber, tradisi Idul Fitri ditandai dengan berkumpulnya keluarga besar di rumah patriarkh setelah salat Ied, di mana anak-anak berbaris untuk menerima hadiah uang dari anggota keluarga yang lebih dewasa. Di Maroko, justru Idul Adha yang lebih semarak, dengan pemandangan unik berupa mobil-mobil mewah mengangkut hewan kurban (Moller, 2005).
Pola komparatif ini menunjukkan bahwa intensitas tradisi pulang kampung pada Idul Fitri berkorelasi erat dengan tingkat urbanisasi, jarak antara kota dan desa, serta pola migrasi internal di masing-masing negara. Indonesia dan Pakistan, yang mengalami urbanisasi pesat dengan konsentrasi ekonomi di kota-kota besar, menunjukkan fenomena mudik yang paling masif. Sementara itu, negara-negara Arab dengan pola hunian yang berbeda menunjukkan tradisi kunjungan keluarga yang lebih terdistribusi sepanjang tahun. Namun, esensi dari semua tradisi ini tetap sama: memperkuat ikatan silaturahmi dan mengekspresikan birr al-walidain sebagai manifestasi iman.
Mudik sebagai Pengejawantahan Eksistensi Diri
Di luar dimensi religius dan sosialnya, mudik juga merupakan ekspresi eksistensial para perantau. Mereka yang merantau ke kota-kota besar menanggung beban psikologis berupa ketercerabutan dari akar budaya dan lingkungan sosial asli mereka. Mudik menjadi momentum rekonsiliasi identitas, di mana para perantau kembali merasakan kesederhanaan, kejujuran, dan kehangatan kehidupan desa yang kontras tajam dengan hingar-bingar kota metropolitan.
Elie Mulyadi, dalam bukunya Ramadhan di Musim Gugur (2009), mengisahkan berbagai pengalaman mudik yang merentang dari kisah lucu hingga inspiratif. Ada kisah pekerja kebun sawit di Sumatera yang bertahun-tahun menabung demi bisa pulang kampung, ada kisah pertemuan jodoh yang tak terduga, dan ada pula kisah seorang bidan yang membatalkan rencananya mudik ke Padang demi menolong persalinan seorang istri tukang becak pada malam Lebaran—sebuah narasi yang menggambarkan bagaimana mudik tidak hanya tentang perjalanan fisik, tetapi juga tentang kepedulian dan kemanusiaan.
Bagi masyarakat kampung, kedatangan para pemudik membawa dampak sosial dan psikologis yang kompleks. Di satu sisi, kehadiran mereka dengan segala atribut kesuksesan—pakaian baru, kendaraan, gawai canggih—menjadi inspirasi dan motivasi. Di sisi lain, kesenjangan yang tampak di permukaan dapat menimbulkan kompleksitas sosial tersendiri. Namun, tradisi berbagi dan silaturahmi yang melekat pada budaya mudik pada akhirnya menjadi perekat sosial yang menjembatani perbedaan tersebut.
Mudik sebagai Perjalanan Menuju Yang Abadi
Tradisi mudik, dalam berbagai manifestasinya di seluruh dunia Muslim, merupakan fenomena multidimensi yang mempertemukan aspek sosial, ekonomi, kultural, dan spiritual. Di Indonesia, ia menjadi identitas nasional yang melampaui sekat-sekat etnis dan sosial. Di Pakistan, ia menghidupkan jalur-jalur kereta api dengan semangat reuni keluarga. Di Mesir, ia terwujud dalam kehangatan kunjungan keluarga yang diiringi aroma kahk dan kegembiraan eidiya.
Pada tingkat yang paling dalam, mudik mengajarkan kita bahwa sejauh apa pun kita melangkah, dan sebanyak apa pun benua yang kita jajaki, pada akhirnya kita akan kembali ke asal. Tradisi ini menjadi pengingat akan hakikat eksistensi manusia yang bersifat sementara, dan bahwa perjalanan hidup ini pada akhirnya adalah perjalanan kembali kepada Yang Maha Abadi. Semoga tradisi mudik Lebaran senantiasa membawa penyadaran spiritual bahwa kehidupan ini adalah awal dari sebuah perjalanan panjang untuk kembali kepada-Nya.
Wa ja’alana wa iyyakum min al-’a’idin wa al-fa’izin. Taqabbal ya karim.
Daftar Pustaka
- Iriany, I. S., Pasciana, R., Ramdhani, A., & Mulyaningsih. (2019). “Eid Homecoming ‘Mudik’ Tradition as a Conventional Pattern in the Global Era.” Journal of Advanced Research in Social Sciences and Humanities, 4(3), 129–135.
- Moller, A. (2005). Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar. Jakarta: Nalar.
- Mulyadi, E. (2009). Ramadhan di Musim Gugur. Jakarta: Penerbit Republika.
- Madjid, N. (1992). Islam, Doktrin, dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan. Jakarta: Paramadina.
- Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). (2016). Edisi V. Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
- “Mudik.” (2025). Wikipedia. Diakses dari https://en.wikipedia.org/wiki/Mudik
- “Brief History of Eid Homecoming Tradition Known as ‘Mudik.’” (2023). Tempo.co. Diakses dari https://en.tempo.co/read/1717268/brief-history-of-eid-homecoming-tradition-known-as-mudik
- “Exploring the Uniqueness of Eid Al-Fitr Homecoming (Mudik) Tradition in Indonesia.” (2025). PeMad. Diakses dari https://pemad.or.id/
- “Eid al-Fitr in Egypt: A Tapestry of Faith, Family, and Festivities.” (2025). Daily News Egypt. Diakses dari https://www.dailynewsegypt.com/
- “With 1,176 Passengers, Eid Train from Karachi Sets Off.” (18 Maret 2026). Dawn. Diakses dari https://www.dawn.com/news/1983146
- “Eid Train Leaves Karachi with 1,176 Passengers.” (18 Maret 2026). Pakistan Today. Diakses dari https://www.pakistantoday.com.pk/
- “Rails of Reunion: How Pakistan Railways is Transforming the Festive Travel Experience.” (2026). Travel and Tour World. Diakses dari https://www.travelandtourworld.com/
- “Indonesians Prepare for Eid Homecoming Migration.” (17 Maret 2026). Xinhua via Pakistan Telegraph.
- “Eid al-Fitr Celebrations around the World.” (2025). Al Jazeera. Diakses dari https://www.aljazeera.com/
- “A Look at Eid al-Fitr and How Muslims Celebrate the Islamic Holiday.” (2026). Associated Press via The Hill.
- “Eid in Pakistan: How Every Pakistani Family Spends Their Eid.” (2026). Brandsynario. Diakses dari https://www.brandsynario.com/
- Al-Qur’an al-Karim, Surah al-Isra’ (17): 23–24.








