Pelitaonline.co, JEMBER – 22 Februari 2026.
Jika pusat keramaian Kampoeng Ramadhan berada di halaman depan Pondok Pesantren Al Ghofilin, maka “jantung” utamanya berada di sebuah ruangan penuh uap dan aroma menggoda.
Dapur Utama.
Sejak tengah hari, kepulan asap dari tungku-tungku besar sudah mulai membumbung. Di sini, para santri dan tim konsumsi berjibaku menyiapkan ratusan porsi takjil dan hidangan berbuka setiap harinya. Bukan sekadar masak besar, ini adalah perwujudan dari semangat khidmat (pengabdian) yang menjadi ruh pesantren.

Dapur Kampoeng Ramadhan Pondok Al Ghofilin yang diasuh oleh Gus Baiquni Purnomo suasananya layaknya simfoni yang teratur. Ada bagian yang khusus mengupas bawang, memotong sayur, hingga tim “eksekutor” yang memasak untuk ratusan orang itu seninya luar biasa. Kami harus memastikan rasa tetap konsisten, mulai dari porsi pertama sampai porsi terakhir,” ujar salah satu santri yang bertugas.
Menu Khas “Kampoeng Ramadhan”
Tahun ini, dapur Al Ghofilin mengusung konsep menu yang variatif namun tetap mengedepankan cita rasa lokal yang akrab di lidah:
Takjil Segar: Mulai dari es buah hingga bubur tradisional yang manis.
Lauk Utama: Ayam bumbu rempah, sayur lodeh khas pesantren, dan sambal yang selalu dirindukan.
Ciri Khas: Penyajian yang rapi dan distribusi yang efisien agar seluruh jamaah dan pengunjung mendapatkan hak yang sama.
Lebih dari Sekadar Mengenyangkan
Kegiatan masak bersama ini bukan hanya soal urusan perut. Di sela-sela memotong sayur dan mencuci peralatan, terselip tawa, canda, dan diskusi ringan antar santri. Inilah momen di mana nilai-nilai kesabaran dan kerja tim ditempa secara nyata.
Bagi para pengunjung Kampoeng Ramadhan Al Ghofilin, setiap suapan nasi yang dinikmati saat adzan Maghrib berkumandang adalah hasil dari kerja keras penuh keikhlasan dari balik layar dapur suci ini.








