Sarasehan Ekologi Budaya PEKA 2026: Kunang-kunang sebagai Simbol Harmoni Manusia dan Alam

Ambang HL

March 5, 2026

3
Min Read
Suasana Sarasehan Ekologi Budaya (Foto: Istimewa)
Suasana Sarasehan Ekologi Budaya (Foto: Istimewa)

JEMBER — Sarasehan Ekologi Budaya dalam rangka Festival Pekan Kunang-Kunang Kebudayaan (PEKA) 2026 yang diselenggarakan oleh Rumah Budaya Nara Bestari menegaskan bahwa krisis ekologis yang terjadi saat ini sejatinya merupakan krisis kebudayaan. Forum ini mempertemukan akademisi, tokoh adat, dan pemerhati budaya untuk merumuskan kembali relasi harmonis manusia dan alam dalam perspektif kebudayaan.

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Grand Valonia, Sumbersari, Jember itu menjadi bagian penting dari Festival PEKA 2026. Kegiatan itu juga menghasilkan kesimpulan strategis bahwa upaya pemulihan lingkungan tidak dapat dilepaskan dari pemulihan nilai, memori kolektif, dan pendidikan lintas generasi. Diskursus utama dalam sarasehan menempatkan kunang-kunang sebagai simbol ekologis sekaligus pedagogis.

Dalam paparan akademiknya, Dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Jember sekaligus narasumber utama, Ikhwan Setiawan menjelaskan bahwa kunang-kunang merupakan bagian dari ordo Coleoptera yang berfungsi sebagai bioindikator kesehatan lingkungan. Kehadirannya mensyaratkan kelembapan tanah yang terjaga, kualitas oksigen yang baik, minim polusi cahaya, serta ekosistem air dan vegetasi yang stabil.

“Hilangnya populasi kunang-kunang menjadi tanda terganggunya keseimbangan ekologis. Fenomena bioluminesensi pada serangga tersebut bukan sekadar keindahan visual, melainkan bagian dari sistem biologis presisi untuk reproduksi dan perlindungan diri yang menunjukkan efisiensi dan kecerdasan alam,” kata Ikhwan, Sabtu (28/2/2026) lalu.

Baca Juga :  Damai, B.Rib Ditahan Kejari Jember Ratusan Warga Kedawung Gelar Aksi

Lebih jauh, perspektif akademik dalam Sarasehan Ekologi Budaya PEKA 2026 menekankan prinsip fundamental relasi manusia dan alam.

“Bukan alam yang harus mengikuti cara kerja manusia, melainkan manusia yang harus menyesuaikan diri dengan cara alam bekerja,” tegas Ikhwan.

Menurutnya, regenerasi yang peka ekologis disebut sebagai kebutuhan mendesak dalam menghadapi percepatan krisis lingkungan global.

Sementara itu, dari perspektif memori kolektif Jawa, narasumber kedua Bopo Budi Siswanto memaparkan tata ruang hidup leluhur yang dibangun berdasarkan harmoni kosmologis.

“Tanah, air, tumbuhan, hewan, dan manusia diposisikan dalam satu sistem keseimbangan yang saling menopang. Kita lihat dalam Sistem Mongso, contoh penebangan kayu jati pada Mongso Songo dilakukan saat kadar air kayu rendah sehingga lebih tahan terhadap rayap. Praktik tersebut menunjukkan akurasi ekologis berbasis pengalaman lintas generasi yang teruji waktu,” katanya.

Baca Juga :  Keunikan Alat Musik Kalimantan Tengah yang Tidak Dimiliki Daerah Lain

Selain itu, lanjut Budi, sungai dan sumber air dalam tradisi Jawa memiliki siklus pemanfaatan tersendiri. Prinsip tersebut mencerminkan kesadaran terhadap daya dukung dan daya pulih lingkungan. Mitos pun dipandang bukan sebagai irasionalitas, melainkan instrumen transmisi etika lingkungan agar masyarakat menjaga keseimbangan alam.

Tak hanya kedua narasumber tersebut, narasumber ketiga Dedi Endarto dari Wilwatikta memaknai kunang-kunang sebagai metafora budayawan. Ia menyebut budayawan sebagai “penerang dalam kegelapan zaman”, sosok yang menghadirkan karya sesuai konteks eranya sekaligus menjaga nurani ekologis masyarakat.

Menurutnya, alam merupakan fondasi lahirnya tradisi, seni, hingga teknologi sosial. Ia menyinggung praktik masyarakat adat seperti Kasepuhan Ciptagelar yang berhasil mempertahankan sistem pertanian berbasis pesan leluhur dan terbukti mampu menjaga keseimbangan ekologi secara berkelanjutan.

Dari ketiga perspektif tersebut, Sarasehan Ekologi Budaya PEKA 2026 merumuskan sintesis strategis yang merepresentasikan alam adalah fondasi kebudayaan, pengetahuan lokal memiliki validitas ekologis, regenerasi menjadi kunci keberlanjutan, budayawan dan lembaga budaya harus berperan sebagai agen konservasi serta krisis ekologis merupakan krisis nilai dan memori kolektif.

Baca Juga :  Tata Ruang Adalah Dasar Perencanaan Wilayah, Mengapa Sangat Penting?

Owner Rumah Budaya Nara Bestari, Hadi Purnomo mengatakan bahwa Rumah Budaya tersebut kedepannya akan diproyeksikan sebagai laboratorium ekologi budaya, pusat pendidikan nonformal ekokultural, sekaligus inkubator budayawan ekologis.

“Lembaga ini akan mengembangkan kurikulum berbasis observasi bioindikator, pengetahuan musim tradisional, reinterpretasi mitos sebagai etika lingkungan, serta praktik konservasi sederhana,” tuturnya.

“Sarasehan juga merekomendasikan integrasi pendekatan kebudayaan dalam kebijakan lingkungan daerah, penguatan pendidikan ekologi budaya berbasis kearifan lokal, serta kolaborasi antara budayawan, akademisi, dan pemerintah dalam program konservasi berbasis komunitas. Program pelestarian habitat kunang-kunang diusulkan sebagai simbol konservasi daerah,” tambah Hadi.

Hadi juga menegaskan bahwa masa depan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari masa depan kebudayaan.

“Kunang-kunang diposisikan sebagai simbol moral, cahaya kecil yang menuntun arah di tengah kegelapan krisis zaman. Melalui pendekatan ekologi budaya, gerakan menjaga alam kami harap bisa menjadi gerakan peradaban yang berkelanjutan,” pungkasnya.

Bantu Ikuti Saluran : WhatsApp Kami

Dan Bantu Ikuti : Google News Kami

Related Post

 

×