ENSIKLOPEDIA – JAKARTA, 23 Juni 2025. Hukum menitipkan anak kepada orang tua kerap jadi topik hangat di kalangan keluarga modern. Dengan ritme hidup yang semakin cepat, banyak orang tua muda memilih menitipkan anak pada kakek-nenek untuk berbagai alasan, mulai dari kebutuhan kerja hingga keterbatasan finansial.
Tapi, apakah ini selalu solusi terbaik? Artikel ini akan mengupas tuntas hukum menitipkan anak kepada orang tua dari berbagai sudut pandang, termasuk sisi hukum, psikologi, dan sosial, dengan data terbaru yang relevan.
Hukum Menitipkan Anak dalam Perspektif Hukum Keluarga
Dari sisi hukum keluarga di Indonesia, hukum menitipkan anak kepada orang tua tidak diatur secara spesifik dalam perundang-undangan. Namun, menurut UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974, orang tua memiliki kewajiban utama untuk merawat dan mendidik anak. Jika orang tua menitipkan anak pada kakek-nenek, tanggung jawab hukum tetap ada pada mereka. Artinya, kakek-nenek hanya berperan sebagai pengasuh sementara, bukan pengganti orang tua.
Menariknya, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) 2023 menunjukkan bahwa 42% keluarga di perkotaan menitipkan anak pada orang tua atau kerabat karena faktor ekonomi. Hal ini menegaskan bahwa hukum menitipkan anak kepada orang tua sering kali bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan. Namun, tanpa komunikasi yang jelas, praktik ini bisa memicu konflik, seperti perbedaan pola asuh atau ekspektasi yang tidak selaras.
Dampak Psikologis pada Anak dan Orang Tua
Hukum menitipkan anak kepada orang tua juga punya implikasi psikologis. Studi dari Universitas Gadjah Mada (2024) mengungkapkan bahwa anak yang diasuh kakek-nenek cenderung memiliki ikatan emosional yang kuat dengan mereka, tapi bisa merasa kurang dekat dengan orang tua kandung. Ini terutama terjadi jika penitipan berlangsung lama tanpa keterlibatan aktif orang tua.
Sebaliknya, bagi kakek-nenek, hukum menitipkan anak kepada mereka bisa jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, mereka merasa senang bisa membantu anak dan cucu. Di sisi lain, beban fisik dan emosional sering kali terasa berat, terutama jika mereka sudah lanjut usia. Psikolog keluarga, Dr. Rina Sari, menyatakan, “Kakek-nenek perlu energi besar untuk mengasuh anak kecil. Tanpa dukungan, mereka bisa mengalami stres berat.”








